SAMARINDA – vivaborneo.com - Indonesia terlanjur bangga sebagai pengekspor Crude Palm Oil (CPO) terbesar
dunia mengalahkan Malaysia, padahal komoditas CPO hanya sebagai bahan
baku yang semestinya melalui proses lanjutan atau diversifikasi menjadi bahan
komoditas lainnya untuk menambah nilai tambah komoditas tersebut. Demikian
dikatakan Ketua Dewan Penasehat Kawasan Industri Pelabuhan Internasional (KIPI)
Maloy, HS Syafran dalam Workshop bertema Pengembangan Komoditi Kelapa Sawit
Sebagai Bahan Baku, bertempat di Ruang Ruhui Rahayu Kantor Gubernur Kaltim,
Selasa (10/8).HS Sjafran menjelaskan dengan program
pembangunan pelabuhan laut Internasional Maloy sebagai pelabuhan laut pengespor
khusus CPO di Indonesia bagian Timur. “Masih terjadi kesenjangan antara pelabuhan
Indonesia bagian barat dan timur yang mengakibatkan adanya perbedaan harga
tandan segar CPO. Ini dikarenakan Indonesia timur tidak memiliki pelabuhan
ekspor. Saat ini kapasitas Pelabuhan Dumai 5 juta ton per tahun dan BElawan 4
juta ton per tahun sementara dari lain-lain 10 juta ton setahunnya,” jelasnya.
Minyak kelapa sawit (CPO) sebenarnya dapat didiversifikasikan
ke dalam berbagai bentuk produk yang sangat dibutuhkan dunia, sehingga memiliki
nilai ekonomi yang tinggi di pasar ekspor. Kesadaran konsumen dunia kini terus
meningkat untuk beralih dari minyak hewani ke minyak nabati karena isu asam
lemak. Asam lemak yang terkandung dalam minyak sawit lebih seimbang daripada
yang terkandung pada minyak hewani.
Sementara itu, Gubernur Kaltim, H Awang Faroek Ishak dalam
sambutan yang dibacakan Staf Ahli Bidang Pertanian, Sumber Daya Alam dan
Lingkungan Hidup, Dady Rukhiat mengatakan program Satu Juta Hektar Sawit
yang dilaksanakan Provinsi Kaltim didasari dengan pemikiran karena
perkebunan sawit memiliki prospek cerah dan sebagai sektor andalan pengganti
Minyak dan Gas (Migas).
Potensi lahan yang tersedia bagi pengembangan perkebunan di
Kaltim saat ini terdapat 4,6 juta hektar. diperkirakan sudah mencapai lebih
dari 700 ribu hektar yang terdiri dari plasma atau yang diusahakan rakyat,
perkebunan milik BUMN dan perkebunan besar swasta (PBS) dengan produksi 2,5
juta ton TBS dan sekitar 100 ribu ton crude palm oil (CPO) beserta
turunannya per tahun.
“Dari 302 perusahaan yang mendapat ijin lokasi, sebanyak 103
perusahaan telah memegang ijin Hak Guna Usaha (HGU.) Dengan bertambah banyaknya
perusahaan perkebunan kelapa sawit yang beroperasi di Kaltim, maka luasan lahan
perkebunan kelapa sawit akan semakin bertambah, sehingga Kaltim optimistis
produksi target Satu Juta Hektar Sawit sampai 2013 akan dapat terpenuhi,”
jelasnya.
“Berdasarkan informasi yang Saya peroleh di Malaysia,
selama ini sudah mampu mengembangkan produk sawitnya lebih dari 3000
macam produk, tidak hanya berupa produk makanan, tapi untuk keperluan lain yang
lebih luas, misalnya untuk pembuatan kosmetik hingga menjadi bahan bakar
kendaraan bermotor pengganti bensin (premium),” ujar Awang Faroek.
Sementara itu, untuk mendukung klaster industria berbasis
pertanian dan oleo chemical, maka dukungan infrastruktur sebagai pendukung
utama harus dibangun terlebih dahulu. Untuk sebuah, klaster, sebaiknya dibangun
industri hulu dan hilirnya. Sehingga, ketika harga CPO dunia jatuh, maka CPO
dapat diolah menjadi barang-barang turunan lainnya yang juga mempunyai nilai
ekonomis tinggi, sehingga pengusaha dan petani tetap dapat memanen buah
sawitnya. (vb/yul)
KODAR
SOLIHAT/"PRLM"
NGAMPRAH,
(PRLM).- Pengembangan aneka usaha berbasis pelestarian lingkungan melalui
pemanfaatan lahan-lahan cadangan pada hak guna usaha (HGU), tengah dikembangkan
PT Perkebunan Nusantara (PTPN) VIII untuk sejumlah unit kebun yang mengusahakan
tanaman teh. Usaha tersebut dirintis oleh unit Kebun Panglejar-Pangheotan, Kec.
Cikalong Wetan, Kab. Bandung Barat, yang semakin agresif mengusahakan aneka
komoditas untuk mencoba unit kebun tersebut kembali menguntungkan.
Administratur
Kebun Panglejar-Pangheotan, Nana Sumana, di Cikalong Wetan, Kamis (21/7)
mengatakan, pengembangan usaha kebun ini kini diperkuat agrobisnis rumput
gajah, lalu dikembangkan perikanan air tawar, usaha pengolahan kayu, dll,
menyusul usaha pohon kayu-kayuan yang sudah berjalan. Melalui pengembangan
usaha seperti itu, Kebun Panglejar-Pangheotan diharapkan akan menguntung sampai
puluhan miliar per tahun mulai tahun 2014, dibandingkan selama ini yang masih
merugi miliaran rupiah pada tahun 2010.
Disebutkan,
agresifnya pengembangan usaha di Kebun Panglejar-Pangheotan selaras pula dengan
amanat dari Kementrian Badan Usaha Milik Negara (BUMN), yang meminta agar unit
kebun tersebut tetap berjalan optimal usahanya berbasis pelestarian lingkungan.
Gangguan
perubahan iklim mikro pengaruh pemanasan akibat terbelah jalan tol Cipularang
dan harga jual komoditas teh dunia yang sedang kurang menguntungkan Kebun
Panglejar-Pangheotan, dicoba diatasi melalui diversifikasi usaha agro lainnya
yang sekaligus bermanfaat bagi pemulihan lingkungan.
Pengusahaan
rumput gajah dari Kebun Panglejar-Pangheotan yang diawali dirintis 50 hektare
sudah panen beberapa hari lalu, yang langsung diserap para peternak sapi dari
sejumlah kabupaten sekitar. Rencananya, usaha rumput gajah di Kebun
Panglejar-Pangheotan akan dikembangkan sampai 200 hektare, yang didukung dengan
pengusahaan secara organik melalui bokasi.
"Harapannya,
Kebun Panglejar-Pangheotan yang selama ini masih 'babak belur' akibat perubahan
iklim mikro maupun harga jual teh yang belum menguntungkan, dapat berubah
menjadi unit kebun yang serba menguntungkan dan serba lestari di masa datang.
Apalagi, lokasi kebun ini sangat strategis bagi pelestarian pinggiran Kota
Bandung maupun penyerapan tenaga kerja maupun mitra para petani teh dari
masyarakat desa sekitar," katanya. (A-81/kur) ***
http://www.pikiran-rakyat.com/node/152636
Senin, 19 Januari 2015
Integrasi
20.42
kgi-dasar


0 komentar:
Posting Komentar