KGI-PALM KAMI MENGERTI NILAI HIDUP , PENYEDIA PALM OIL GO GREEN

Kamis, 29 Januari 2015

produktivitas



akarta - Dibandingkan dengan Malaysia, produktivitas tandan buah segar (TBS) perkebunan sawit di Indonesia terbilang sangat rendah. Sedikitnya produktivitas ini terjadi pada perkebunan rakyat yang dikelola oleh petani.

Dirjen Perkebunan Kementerian Pertanian (Kementan), Bambang, mengungkapkan rata-rata produktivitas TBS perkebunan sawit rakyat hanya 2-3 ton per hektar. Jauh di bawah angka produktivitas kebun sawit di Negeri Jiran yang bisa mencapai 12 ton per hektar.

"Kita ini baru 2-3 ton per hektar, padahal kita bisa tingkatkan hingga potensi 8 ton per hektar, Malaysia bisa 12 ton," ucap Bambang saat penyerahan 40 sertifikat ISPO di Kementan, Jakarta, Senin (29/8/2017).

Akibat rendahnya produktivitas perkebunan sawit rakyat yang luasnya 4,7 juta hektar ini, ada potensi kehilangan yang setiap tahunnya mencapai Rp 120 triliun. 

"Kita kehilangan setahun Rp 120 triliun karena enggak mampu meningkatkan produktivitas perkebunan sawit kita," jelas mantan Kepala Dinas Perkebunan Sulawesi Tenggara ini.

Diungkapkannya, rendahnya produktivitas kebun sawit rakyat ini karena dua sebab yang paling dominan, yakni usia tanaman yang sudah tua, serta bibit pohon sawit yang tidak berkualitas.

"Makanya saya harap dana BPDP (Badan Pengelola Dana Perkebunan Sawit) bisa dipakai setidaknya Rp 10-12 triliun. Enggak rugi lah itu, karena ada potensi (kenaikan produksi) yang bisa kita gapai Rp 120 triliun," ujar Bambang.

Untuk tahun 2017, kata Bambang, Kementan baru bisa melakukan peremajaan kebun sawit atau replanting seluas 27.800 hektar. Jauh dari lahan sawit rakyat yang seharusnya bisa dilakukan replanting seluas 2,4 juta hektar.

"Peremajaan 27.800 hektar walaupun target ini belum besar, masih kecil dari target kelapa sawit yang harus di-replenting dari 4,7 juta hektar, ada 2,4 juta hektar yang perlu di-preplanting, baik karena usia tua atau berasal dari benih yang enggak mutu," tutur Bambang. 

Berdasarkan data, Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) total produksi minyak sawit dalam negeri mengalami penurunan tiga persen selama tahun 2016. Adapun total produksi selama 2016 sebesar 34,5 juta ton, turun dibandingkan total produksi 2015 sebanyak 35,5 juta ton.

Dari data Gapki menunjukkan, total produksi minyak sawit Indonesia pada 2016 sebanyak 34,5 juta ton yang terdiri dari crude palm oil (CPO) sebanyak 31,5 juta ton dan palm kernel oil (PKO) sebanyak tiga juta ton. Sementara pada 2015, produksi CPO sebanyak 32,5 juta ton dan PKO sebanyak tiga juta ton, sehingga total produksi minyak sawit sebanyak 35,5 juta ton. (idr/dna)
BIATAN – Kampung Biatan Lempake pindahkan jalur jalan umum untuk kegiatan pengangkutan kelapa sawit milik PT Tanjung Buyu Perkasa (TBP) Plantation dan PT Dwiwira Lestari Jaya (DLJ), dari Jalan Hasanuddin yang padat pemukiman ke Jalan RA Kartini yang masih sepi pemukiman.
Pantauan beraunews.com di lapangan, Jalan Hasanuddin dan RA Kartini saat ini telah dipasang plang penunjuk jalan tentang larangan melintas telah terpasang kokoh secara permanen.

Kepala Kampung Biatan Lempake, Andi Mulyadi mengatakan, semakin padatnya arus lalu lintas industri sawit, baik berupa Tandan Buah Segar (TBS) maupun minyak sawit mentah atau Crude Palm Oil (CPO) yang melintasi jalan umum yang padat pemukiman dan guna menghindari kemungkinan yang tidak diinginkan seperti kecelakaan dan pencemaran berupa debu, maka Pemerintah Kampung Biatan Lempake mengalihkan jalur yang biasanya melewati Jalan Hasanuddin yang padat pemukiman dialihkan ke Jalan RA Kartini yang masih sepi pemukiman.

“Guna menghindari penggunaan jalur jalan umum padat pemukiman, maka kami mengimbau perusahaan agar pengangkatannya dialihkan ke jalur jalan umum sepi pemukiman,” jelasnya kepada beraunews.com, Rabu (7/9/2016).

Dikatakannya, ada 2 perusahaan sawit yang beroperasi di kampung yang dipimpinnya, yakni PT TBP dan PT DLJ yang masing-masing memiliki kebun dan pabrik pengolahan TBS menjadi CPO. Kedua perusahaan tersebut, selama ini menggunakan jalan umum kampung sebagai jalur pengangkutan hasil perkebunan dan pabrik, baik TBS yang diangkut menuju pabrik, maupun mengangkut CPO menuju terminal khusus di Muara Biatan.

“Ada 2 perusahaan yang beroperasi di wilayah administrasi kampung kami dan kami alihkan jalur angkutan sawit agar tidak mengganggu aktivitas warga, terutama Jalan Hasanuddin yang memang padat penduduk,” bebernya.

BACA JUGA : PT DLJ Gelar Konsultasi Publik Pembangunan Terminal Khusus

Dengan telah terpasangnya plang larangan melintas, dikatakan Andi, sudah tidak ada lagi angkutan sawit yang melintasi Jalan Hasanuddin. Sedangkan, Jalan RA Kartini yang masih berupa jalan tanah yang kini digunakan kedua perusahaan, diharapkannya agar pihak perusahaan aktif melakukan penyiraman.

“Untuk Jalan RA Kartini yang kondisi jalannya tanah agar pihak perusahaan aktif melakukan penyiraman bila musim panas karena debunya sangat mengganggu,” tutupnya.(
Ade S.CVB)


0 komentar:

Posting Komentar

 
Powered by Blogger